Rabu, 24 Agustus 2016

Sejarah Nabi #10

Keturunan Nabi Ismail

Sahabat fillahku, tak lama kemudian, Ismail menikah. Namun, belum berapa lama, rasa gembira itu berubah duka karena Bunda Hajar wafat. Ismail amat kehilangan ibunya. Betapa tidak, ia ditinggal oleh orang yang sangat ia sayangi dan menyayanginya. Mendengar istrinya wafat, Nabi Ibrahim yang telah berusia lanjut datang ke Mekah.

Ketika tiba di rumah Ismail, Nabi Ibrahim diterima oleh menantunya.

"Bagaimana kehidupan kalian?" tanya Nabi Ibrahim.

"Hidup kami susah dan terlalu sederhana. Bahkan, sekarang pun saya tidak dapat menyuguhkan apa-apa kepada Bapak," keluh istri Ismail.

Nabi Ibrahim termenung. Ia pun berdiri dan pamit.

"Sampaikan kedatanganku kepada Ismail. Katakan juga kepadanya bahwa aku ingin agar ia mengganti gerbang rumah ini."

Ketika Ismail pulang, istrinya menyampaikan pesan ini.

"Itu ayahku," kata Ismail, "pesan itu memerintahkan agar saya menceraikanmu karena kamu tidak berlapang dada menjalani hidup kita yang sederhana."

Setelah melaksanakan pesan ayahnya, Ismail menikahi wanita yang lain. Suatu saat, Nabi Ibrahim datang berkunjung. Beliau diterima oleh menantunya yang baru.

"Bagaimanakah kehidupanmu bersama Ismail?" tanya Nabi Ibrahim.

"Alhamdulillah Ismail adalah suami yang penyayang, rajin bekerja, dan selalu membimbing saya di jalan Allah. Kami hidup berbahagia."

Nabi Ibrahim tersenyum, "Sampaikan kedatanganku kepada Ismail. Katakan juga kepadanya bahwa aku menyukai gerbang rumahnya."

Ketika Ismail datang, istrinya menyampaikan pesan Nabi Ibrahim.

"Alhamdulillah, ayahku menyukaimu karena engkau istri yang shalihah, " senyum Ismail.

Ismail pun diangkat menjadi seorang nabi. Putra-putra beliaulah yang menjadi nenek moyang Nabi Muhammad SAW. 

Catatan tambahan
Tempat Ibadah Tertua

Melalui surat Ali Imran ayat 96-97, Allah menerangkan bahwa sesungguhnya rumah ibadah tertua di dunia ini adalah yang ada di Mekah, yaitu Ka'bah. Rumah ibadah ini diberkahi Allah dan menjadi petunjuk bagi manusia di seluruh dunia. Begitu tuanya umur Ka'bah sampai tak seorang pun tahu telah berapa lama Ka'bah berada di muka bumi ini. Ka'bah telah ada sebelum Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail  diperintahkan membangunnya kembali

- Kisah ini diambil dari Buku Muhammad Teladanku Jilid 1
One Day One Sirah

Sejarah Nabi #9

Membangun Ka'bah

Sahabat fillahku, setelah Ismail tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan shalih, Nabi Ibrahim memanggilnya, "Anakku, Allah memerintahkan kita membangun Baitullah dekat Sumur Zamzam."

"Dengan izin Allah, aku akan membantumu," jawab Ismail.

Kemudian, keduanya bekerja keras. Ismail mengangkat batu-batu, membelah, dan meratakannya. Sementara itu, Nabi Ibrahim menyusunnya menjadi sebuah bangunan. Agar dapat meletakkan batu-batu di tempat yang tinggi, Nabi Ibrahim berpijak di atas sebuah batu. Jika satu bagian telah selesai dikerjakan, beliau memindahkannya ke bagian lain sebagai tempat pijakan lagi. Demikian dilakukan terus sampai seluruh bagian Ka'bah selesai dibangun.

Telapak kaki Nabi Ibrahim membekas di atas batu pijakan tersebut. Jika kita pergi ke Masjidil Haram, kita dapat melihatnya dalam sebuah rongga berkaca. Batu itu dinamakan Maqam Ibrahim. Artinya, tempat berpijak Nabi Ibrahim.

Setelah menyelesaikan pembangunan Ka'bah. Nabi Ibrahim dan Ismail berdoa, "Ya Allah, terimalah apa yang telah kami kerjakan. Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Kemudian Allah memerintahkan agar tempat itu dijaga kesucian dan kebersihannya sebagai tempat beribadah, thawaf, rukuk dan sujud. Setelah itu, Nabi Ibrahim kembali ke Palestina.

Catatan tambahan
Hajar Aswad

Hajar Al Aswad atau "batu hitam" adalah sebuah batu lonjong bergaris tengah sekitar 25 sampai 45 cm.

 Kisah ini diambil dari Buku Muhammad Teladanku Jilid 1
One Day One Sirah

Sejarah Nabi #8

Penyembelihan Ismail

Allah ingin menguji Nabi Ibrahim, manakah yang lebih beliau cintai, Allah atau Ismail? Melalui mimpi, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim menyembelih putra kesayangannya itu.

Saat pagi hari tiba, Nabi Ibrahim memanggil Ismail, "Anakku, dalam tidur, Ayah bermimpi menyembelihmu. Apa pendapatmu, Nak?"

"Ayah, jika ini kehendak Allah, lakukan apa yang diperintahkan kepadamu. Jangan takut, Ayah, InsyaaAllah aku termasuk orang yang sabar."

Nabi Ibrahim memeluk Ismail erat-erat dengan penuh haru, "Ayah mencintaimu, Nak! Ayah bangga kepadamu."

Nabi Ibrahim membawa Ismail jauh dari rumah. Ketika sampai di tempat ia akan disembelih, Ismail berkata, "Ayah, jangan ragu, lakukanlah perintah Allah ini. Kalau Ayah akan menyembelihku, ikatlah aku kuat-kuat agar Ayah tidak terkena darahku. Aku takut darahku mengotori bajumu sehingga pahalaku berkurang. Ayah, jangan ragu jika melihat aku gelisah. Karena itu, tajamkanlah parang Ayah agar dapat memotongku sekaligus. Telungkupkanlah wajahku, Ayah, jangan dimiringkan. Aku khawatir Ayah bisa melihat wajahku dan merasa iba sehingga Ayah jadi ragu melaksanakan perintah Allah. Kalau Ayah merasa bajuku dapat menghibur ibu, berikanlah baju ini kepada ibu."

"Anakku," bisik Nabi Ibrahim, "ketabahanmu menguatkan ketabahan Ayah."

Ketika Nabi Ibrahim akan menyembelih putranya, Allah mengganti Ismail dengan seekor domba yang besar disertai panggilan, "Hai Ibrahim! Engkau telah melaksanakan mimpi itu!"

Nabi Ibrahim dan Ismail bersujud penuh syukur. Mereka telah membuktikan bahwa mereka amat mencintai Allah melebihi segalanya.

Catatan tambahan
Melempar Jumrah

Iblis tiga kali menggoda Nabi Ibrahim di perjalanan menuju tempat penyembelihan putranya. Nabi Ibrahim marah dan melempar Iblis tiga kali dengan kerikil. Allah mengabadikan peristiwa itu dalam ibadah haji. Setiap jamaah wajib melontar kerikil di tiga tempat di mana iblis menggoda. Masing-masing disebut Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah.

-      Kisah ini diambil dari Buku Muhammad Teladanku Jilid 1

-      One Day One Sirah

Rabu, 03 Agustus 2016

Sejarah Nabi #7

Sumur Zamzam

Sahabat fillahku, atas kehendak Allah SWT jua, Nabi  Ibrahim as. mengajak Bunda Hajar dan bayinya pergi jauh, jauh sekali; ke tengah sebuah lembah tandus yang sekarang disebut Mekah. Tempat itu merupakan tempat persinggahan rombongan pedagang. Akan tetapi, saat itu adalah saat-saat paling sepi sepanjang tahun. Tidak ada satu orangpun yang tampak di sana.

"Aku harus meninggalkanmu," kata Nabi Ibrahim kepada istrinya.

"Apakah ini kehendak Allah SWT?" tanya Bunda Hajar.

Nabi Ibrahim  mengangguk pasti, "Allah pasti menjagamu dan anak kita."

Kemudian, Nabi Ibrahim  pergi meninggalkan Bunda Hajar dan Ismail dengan bekal seadanya. Tidak lama kemudian, air pun habis. Ismail menangis kehausan. Bunda Hajar kebingungan, apalagi saat itu air susunya pun tidak keluar. Ke mana dia harus mencari air di tempat setandus ini?

Bunda Hajar berlari ke puncak bukit terdekat.

"Ya Allah hindarkan kami dari mati kehausan. Berikanlah kepadaku jika di sisi-Mu ada air."

Namun, tidak dilihatnya sumber air. Beliau pun berlari ke puncak bukit sebelahnya dengan dada berdebar penuh harap. Akan tetapi, tidak juga tetlihat air. Hanya pasir dan pasir di mana-mana.

Begitulah sahabat fillahku, Bunda Hajar berlari bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwah. Perjuangan Bunda Hajar itu diabadikan Allah SWT dalam salah satu rukun haji, yaitu Sa'i, para jamaah berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali.

"Anakku!" Jerit Bunda Hajar sedih. Paling lama, esok dia dan bayinya akan mati kehausan. Akan tetapi, Allah Maha Kuasa. Ketika Ismail menendang-nendang pasir sambil menangis, keluarlah mata air yang terus dan terus memancar. Nama mata air itu adalah Zamzam.

Berkat pertolongan Allah SWT, Bunda Hajar dan bayinya dapat selamat. Tidak lama kemudian, datanglah kafilah dagang. Karena ada Sumur Zamzam, mereka bisa menetap. Ketika Nabi Ibrahim  datang menengok, tempat itu sudah jadi pemukiman.

Alangkah bahagianya Nabi Ibtahim a.s melihat Ismail telah tumbuh menjadi anak yang saleh.

Akan tetapi, kemudian Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim  melakukan hal yang amat berat.  Apakah perintah Allah SWT itu?


Catatan tambahan
Zamzam Tertimbun

Karena kelalaian manusia, badai dan banjir, Sumur Zamzam pernah tertimbun dan dilupakan orang. Seorang bernama Mudzaz pernah mencoba menggalinya. Walaupun telah mempersembahkan sesaji berupa pedang dan pelana emas, air tidak juga muncul. Sumur Zamzam akhirnya berhasil digali oleh Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad SAW.
                          
- Kisah ini diambil dari Buku Muhammad Teladanku Jilid 1

- One Day One Siroh

Sabtu, 30 Juli 2016

Sejarah Nabi #6

Nabi Ibrahim Berangkat ke Mekah

Sahabat fillahku, dengan izin Allah, Bunda Hajar pun mengandung. Tidak lama kemudian, lahirlah bayi kecil yang diberi nama Ismail.

Dengan dada yang dipenuhi kasih sayang dan rasa syukur mendalam atas karunia Allah, Nabi Ibrahim mendekap Ismail erat-erat. Sudah puluhan tahun beliau menantikan seorang anak, kini pada usia senja, anak yang didambakan lahir. Air mata sang Nabi berlinang-linang menahan haru.

"Engkaulah belahan jiwaku, engkaulah penerus dakwahku kelak," bisik Nabi Ibrahim kepada bayinya yang mungil.

Sejak itu, hari-hari Ibrahim dipenuhi dengan tawa Ismail. Di sela-sela kesibukan berdakwah, beliau selalu menyempatkan diri untuk menggendong sang bayi. Bunda Sarah juga sangat menyayangi Ismail. Beliau sering membantu Bunda Hajar mengasuh sang bayi.

"Lihat, Kanda," bisik Bunda Sarah sambil mendekap Ismail, "alangkah miripnya bayi lucu ini denganmu."

Nabi Ibrahim tersenyum mendengar perkataan itu. Bunda Sarah pun membalas senyumnya. Namun, sahabat fillah, Nabi Ibrahim adalah suami yang lembut. Beliau tahu bahwa walaupun sangat menyayangi Ismail, sebenarnya Bunda Sarah sangat ingin memiliki putra yanh lahir dari rahimnya sendiri. Putra saleh yang akan melanjutkan dakwah mereka.

Nabi Ibrahim menyadari betapa beratnya perasaan Bunda Sarah. Beliau sangat ingin meringankan beban itu. Karena itu dalam setiap kesempatan berdo'a, Nabi Ibrahim dan Bunda Sarah meminta agar Allah berkenan menurunkan seorang lagi penerus dakwah dari rahim Bunda Sarah.

Sahabat fillah, belum lagi do'a itu terkabul, Allah Yang Maha Penyayang menurunkan sebuah ujian yang sangat berat. Nabi Ibrahim dititah untuk membawa Bunda Hajar dan bayinya pergi ke suatu tempat yang sangat jauh. Sebuah tempat sunyi tak berpenghuni di tengah gurun yang tandus dan gersang.

Perpisahan ini terasa sangat berat di hati Bunda Hajar dan Bunda Sarah. Namun, kehendak Allah ada di atas segalanya. Sahabat fillah, apa yang terjadi pada Bunda Hajar dan Ismail di tempat baru itu?


Catatan tambahan
Akhirnya Allah Maha Penyayang mengabulkan doa Bunda Sarah. Pada usia yang sudah lanjut, Bunda Sarah mengandung. Kemudian, lahirlah Nabi Ishaq. Dari keturunan Nabi Ishaq inilah kelak lahir Nabi Yaqub, Yusuf, Ayub, Zulkifli, Syu'aib, Yunus, Musa, Harun, Ilyas, Ilyasa, Daud, Sulaiman, Yahya dan Isa. Sementara, dari Nabi Ismail, lahirlah Nabi Muhammad. Karena itu, Nabi Ibrahim disebut Abul Anbiya (Bapak Para Nabi)

- Kisah ini diambil dari Buku Muhammad Teladanku Jilid 1

- One Day One Siroh

Sejarah Nabi #5

Nabi  Ibrahim as. dan Bunda Sarah

Allah SWT tidak membiarkan Nabi Ibrahim teraniaya.
_"Api menjadi dinginlah dan selamatkan Ibrahim!"_ demikian Allah SWT berfirman kepada api.

Api pun tidak dapat membakar tubuh Nabi Ibrahim sehingga beliau dapat keluar dari dalam api dengan selamat. Kemudian, bersama Sarah, istrinya, Nabi Ibrahim  meninggalkan negerinya dan pergi ke Palestina. Dari Palestina, Nabi Ibrahim  dan Sarah tiba di Mesir. Saat itu, Mesir berada di bawah kekuasaan raja-raja Amalekit (Hyksos). Raja-raja Amalekit ini sangat menyukai wanita-wanita cantik. Jika wanita cantik itu telah menikah, raja-raja Amalekit akan membunuh suaminya.

Adik-adik tersayang, Bunda Sarah adalah wanita yang jelita. Melihat kecantikannya, raja berniat meminang Sarah menjadi istrinya.

"Apakah dia istrimu?" tanya raja kepada Nabi Ibrahim.

Nabi Ibrahim mengetahui bahwa dia akan dibunuh jika mengaku bahwa Sarah adalah istrinya. Oleh karena itu, beliau berpura-pura memperlakukan Sarah sebagai adiknya. Setelah itu, sahabat fillah, ternyata raja tidak dapat mendekati Bunda Sarah. Kakinya seolah tertanam di lantai.

"Wanita ini pasti dilindungi oleh Tuhannya. Aku tidak dapat mengganggunya," demikian pikir raja ketakutan.

Akhirnya, raja melepaskan Nabi Ibrahim dan Bunda Sarah. Sebagai hadiah, raja memberikan seorang hamba wanita bernama Hajar kepada mereka berdua.

Sahabat fillah, Nabi Ibrahim  terus berdakwah. Namun, beliau tidak juga diberi seorang anak untuk melanjutkan tugas dakwahnya, padahal usianya sudah semakin lanjut. Melihat hal itu, Bunda Sarah meminta Nabi Ibrahim  menikahi Hajar.

Apakah Allah memberi Nabi Ibrahim seorang anak dari rahim Hajar?


Catatan tambahan
Raja Namrud

Nabi Ibrahim  dibakar atas perintah Raja Namrud. Namrud adalah raja yang menganggap dirinya Tuhan. Allah kemudian membinasakan Namrud beserta pasukannya dengan serangan nyamuk. Demikian Allah menghinakan orang-orang yang sombong.

- Kisah ini diambil dari Buku Muhammad Teladanku Jilid 1
- One Day One Siroh

Jumat, 29 Juli 2016

Sejarah Nabi #4

Keberanian Nabi Ibrahim as.

Sahabat fillahku, Nabi Ibrahim as. adalah salah satu nabi yang sangat berani menghadapi kaum yang sesat. Beliau tidak peduli mereka mengejek ajakannya.
Pada saat yang tepat, saat semua penduduk mengadakan pesta tahunan, Nabi Ibrahim as.   mendatangi kuil dengan membawa kapak besar yang tajam. Di dalam kuil, banyak sekali makanan untuk persembahan. Makanan itu masih utuh karena patung memang tidak bisa makan. Nabi Ibrahim as. hanya tersenyum mengingat kebodohan penduduk Negeri Babilonia (sekarang Irak). Lantas, dengan tangkas, Nabi Ibrahim as. merobohkan semua patung-patung di dalam kuil, kecuali patung yang paling besar. Sebelum pergi, Nabi Ibrahim as. meninggalkan kapaknya di pundak patung paling besar.

Raja Namrud dan penduduk Babilonia sangat terkejut ketika mereka kembali dan melihat kuil tempat penyembahan mereka hancur.

"Siapa yang telah menganiaya tuhan-tuhan kita?!"teriak raja Namrud sangat marah. "Siapapun dia ... dia harus diberi hukuman yang setimpal!"

"Hamba tau ini pasti perbuatan Ibrahim!"kata seorang penduduk.

"Panggil dia sekarang juga!"

Para pengawal kerajaan diikuti beberapa penduduk mendatangi rumah Nabi Ibrahim as. Derap langkah mereka terdengar riuh. Nabi Ibrahim as. pun diseret dan diarak keliling kota. Beliau lalu dibawa ke tempat terbuka.

"Ibrahim, apa betul kamu yang telah menghancurkan tuhan-tuhan kami?" tanya seorang hakim beberapa saat kemudian.

Nabi Ibrahim as. tersenyum tenang, "Bukan," jawabnya singkat, "coba lihat, bukankah yang memegang kapak itu patung yang paling besar? Barangkali dia yang melakukannya," lanjutnya.

"Mana mungkin? Dia tidak bisa melakukan apapun!" Kata hakim tegas.

Nabi Ibrahim as. tersenyum lagi, "Kalau tidak bisa melakukan apapun, mengapa kalian menyembahnya?" ujarnya pelan.

Semua orang terpana mendengar perkataan Nabi Ibrahim as. yang begitu pelan, tetapi amat mengagetkan.

"Mengapa kalian menyembah sesuatu yang tidak mendatangkan kebaikan? Mengapa kalian tidak juga menyadari kesalahan kalian?"

"Diam!" bentak Raja Namrud tidak tahan mendengar kalimat Nabi Ibrahim as.
 "Prajurit! sekarang juga kumpulkan kayu bakar untuk membakar Ibrahim!" Perintahnya kemudian.

Tidak berapa lama, kayu pun terkumpul dan membentuk perapian yang siap membakar Nabi Ibrahim as. Begitu api berkobar, Nabi Ibrahim as. dilemparkan ke dalamnya, disaksikan hampir semua penduduk Negeri Babilonia. Pada saat itu pula, Allah berfirman, _"Hai api, menjadi dinginlah (kamu) dan berilah keselamatan bagi Ibrahim."_ (QS Al Anbiya, 21:69).


Catatan tambahan

Ayah Nabi Ibrahim as.

Nabi Ibrahim as. dilahirkan di Irak (Kaldea). Ayahnya adalah seorang tukang kayu pembuat patung. Patung-patung itu dijual kepada masyarakat untuk disembah. Ketika remaja, Ibrahim sangat heran melihat patung buatan ayahnya disembah orang. Ayahnya sangat marah ketika Ibrahim menanyakan hal itu. Sebabnya sang ayah khawatir patung-patungnya tidak laku akibat ulah Ibrahim.
                         
- Kisah diambil dari buku Muhammad Teladanku Jilid 1

- One Day One Siroh